oleh

Apresiasi, Djarum Datang saat Petani Cengkeh Menjerit

Ilustrasi kantor PT Djarum

MANADO–Kesediaan PT Djarum Kudus membeli komoditi cengkeh Sulawesi Utara (Sulut) mendapat apresiasi petani. Perusahaan rokok tersebut bersedia membanderol komoditi ‘emas coklat’ senilai Rp85 ribu per kilogram dengan asumsi kadar air 13 persen.

“Petani tentu berterima kasih atas kesediaan PT Djarum. Ini menjawab harapan petani, karena harga cengkeh selama ini cuma Rp60-65 ribu,” kata Robby, petani cengkeh Kombi, Minahasa, Selasa (25/6/2019).

Dengan harga jual Rp65 per kilogram kata Robby, hitungannya petani masih merugi. Biaya yang paling banya dikeluarkan yakni ongkos pemetikan (panen) lalu biaya pengeringan. “Selama masa pemeliharaan, ada biaya yang keluar,” singgung Robby.

Apresiasi juga disampaikan Ruri M, petani dari Rerer. “Jelas kami berterima kasih. Harga ini sudah bisa selamatkan nasib petani cengkeh. Memang kalau masih bisa dinaikan harganya, tentu lebih bagus. Tapi dengan harga ini juga kami berterima kasih kepada Djarum,” tutur Ruri.

Sebelumnya, PT Djarum sudah menemui Sekretaris Provinsi Sulut Edwin Silangen, di kantor gubernur, Senin (24/6/2019) sore.

“Dengan hitungan tersebut diharapkan petani bisa memperoleh untung yang cukup, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,” ungkap Silangen.

Diketahui, kebutuhan cengkeh nasional mencapai 120.000 ton. Sulut mencatat areal lahan cengkeh seluas 50.000 hektar. Diperkirakan, dengan luasan lahan cengkeh itu, Sulut mampu memenuhi sebagian kebutuhan cengkeh nasional. “Artinya, saat ini produksi melebihi kebutuhan di dalam daerah,” tandas Silangen.

Sekilas tentang Djarum, perusahaan ini memproduksi rokok sekira 25 miliar batang per tahun.

Djarum berawal saat Oei Wie Gwan membeli usaha kecil dalam bidang kretek bernama Djarum Gramophon pada tahun 1951 dan mengubah namanya menjadi Djarum. Awalnya perusahaan ini hanya dijalankan oleh sekitar 10 orang.

Oei mulai memasarkan kretek dengan merek “Djarum” yang ternyata sukses di pasaran. Setelah kebakaran hampir memusnahkan perusahaan pada tahun 1963 (Oei meninggal tidak lama kemudian), Djarum kembali bangkit dan memodernisasikan peralatan di pabriknya.

Pada tahun 1969, Djarum mulai mengekspor produk rokoknya ke luar negeri. Pada tahun yang sama, Djarum memasarkan Djarum Filter, merek pertamanya yang diproduksi menggunakan mesin, diikuti merek Djarum Super yang diperkenalkan pada tanggal 21 April 1970.

Djarum meluncurkan rokok Mild bermerek L.A. Lights pada tanggal 21 April 1999 dan Djarum BLACK pada tanggal 21 April 2000.

Selain dunia rokok, Djarum juga dikenal aktif terlibat dalam dunia bulu tangkis. Klub bulu tangkisnya, PB Djarum, telah menghasilkan pemain-pemain kelas dunia seperti Liem Swie King dan Alan Budikusuma. Selain itu, sejak tahun 1998 perusahaan Djarum juga telah menguasai sebagian besar saham BCA.(TNK)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed